Pembicaraan Penghakiman (1)
Sejujurnya paling nggak bisa membicarakan orang lain dengan
penghakiman. Buat diri sendiri, menghakimi orang yang sedang dibicarakan itu
adalah suatu kegiatan cuma-cuma yang tidak memberikan faedah sedikitpun. Dalam
sudut pandang pribadi, membicarakan orang lain dengan penghakiman sama saja
dengan tidak empati dan tidak menghargai orang yang sedang dibicarakan itu
sebagai siapa.
Fokus pembicaraan penghakiman itu mengacu pada apa yang
sedang dibicarakan bukan siapa yang dibicarakan. Kalau orang membicarakan orang
lain dengan fokus kepada siapa-nya, orang cenderung untuk menimbang kembali apa
yang harus dibicarakannya. Tidak asal bicara yang penting berinteraksi. Berbicara
untuk memahami.
Pembicaraan penghakiman itu menyempitkan wawasan diri
mengenai orang lain, tidak memberi ruang kepada diri untuk belajar memahami
orang lain.
Pembicaraan penghakiman itu menciptakan persepsi tentang
orang lain yang padahal tidak ada buktinya.
Pembicaraan penghakiman itu yang akhirnya mengatur bagaimana
orang berperilaku sesuai dengan apa yang disepakati dalam pembicaraan
penghakimannya itu. Si X begini, dipercaya, besoknya ketemu si X perilaku orang
yang membicarakannya itu seketika berubah sesuai dengan pembicaraan
penghakimannya itu.
Mau orang yang dibicarakan itu adalah orang baik, tidak
baik, buruk atau tidak buruk. Ya, bicara saja apa adanya. Bahkan ketika bagaimanapun buruk orang yang dibicarakan dengan penghakiman itu tetap ada hak untuk dihargai, toh dia masih manusia. Haknya itu melekat, coba dilihat, dirasakan.
Siapapun, ada dan punya hak itu. Ketika ingin mulai membicarakan, tukar posisi saja. Diri sendiri menghakimi diri sendiri, diri sendiri ditempatkan sebagai orang lain yang tidak tahu atau bahkan tidak merasakan apa-apa yang dirasakan oleh diri sendiri yang sedang dihakimi. Rasanya betul lah, tidak senyaman itu.
Dan alangkah baik untuk dicukupkan kalau berbicara, yang dibicarakan itu orang yang berusaha untuk hidup sebagai dirinya. Bukan hidup untuk menganut persepsi orang yang melihatnya.
Siapapun, ada dan punya hak itu. Ketika ingin mulai membicarakan, tukar posisi saja. Diri sendiri menghakimi diri sendiri, diri sendiri ditempatkan sebagai orang lain yang tidak tahu atau bahkan tidak merasakan apa-apa yang dirasakan oleh diri sendiri yang sedang dihakimi. Rasanya betul lah, tidak senyaman itu.
Dan alangkah baik untuk dicukupkan kalau berbicara, yang dibicarakan itu orang yang berusaha untuk hidup sebagai dirinya. Bukan hidup untuk menganut persepsi orang yang melihatnya.
Komentar
Posting Komentar