Sedikit Mengenal Murray Rothbard


Keteraturan sosial itu sifatnya fleksibel. Bagaimana suatu masyarakat pada akhirnya selalu mencari pembaruan dalam keteraturannya jika lebih baik juga menguntungkan daripada yang sebelumnya. Sayangnya, perubahan itu seperti sulit sekali dijemput. Jika perspektifnya itu hanya ingin melihat kebenaran tunggalnya saja.

Interpretasi sosial baru yang mungkin menyejahterakan seperti sebuah ancaman yang menakutkan, jika dilihat dari cara pandang kebenaran tunggalnya itu. Alih-alih membuka ruang guna berdialog. Mencederai hak dasar orang lain seperti hak kebebasan berbicara dengan tidak mau tahu dan menyerang lawan bicara tanpa konteksnya dianggap solusi paling dewa.

Mengutip konsep Hak Asasi Manusia Murray Rothbard dengan salah satu contoh hak dasar yaitu hak kebebasan berbicara: "yang disebut sebagai hak dasar disini adalah suatu hak yang melingkar pada sesuatu sumber daya yang dimiliki dan kepemilikan sesuatu dari seseorang.

Misal anda memiliki mulut (kepemilikan) maka anda punya hak guna membicarakan apapun (substansi pembicaraan berasal dari pemikiran maka ini bisa disebut sebagai sumber daya), tetapi tidak diperkenankan untuk mencederai hak berbicara orang lain jika terjadi bahwa anda tidak suka dengan pendapatnya. Sebab itu namanya mencederai hak dasar orang lain.

Kalau salah satu hak dasar seseorang terpenuhi maka hak dasar lainnya juga ikut terpenuhi. Seperti contoh diatas tidak ada ceritanya nanti kalau berdebat lalu memaki-maki lawan bicara anda. Karena lawan bicara anda juga memiliki hak martabatnya yang semestinya kita hormati selayaknya sesama manusia.

Kembali ke pernyataan awal, ketakutan terhadap interpretasi sosial yang lain adalah manifestasi dari ketakutan atas ketidaktahuan dirinya terhadap sesuatu yang bertujuan guna dipahami.

Sadar tidak sadar warisan budaya ini melumuri segala aspek kehidupan suatu masyarakat. 
Menjaga  "kestabilan sosial" yang semu adalah salah cara suatu masyarakat bertahan hidup. 

Menarik untuk direnungkan lebih jauh, bisakah region bernama Indonesia yang disebut memiliki sistem pemerintahan demokratis tidak begitu dengan gaya hidup suatu masyarakatnya?


Komentar