Persepsi Asumsi Tersembunyi

Persepsi beberapa pihak yang nggak enakan itu jadi bikin pola interaksi asumsi tersembunyi.

Tapi kok bisa ya orang jadi nggak enakan gitu? Bisa aja karena berbagai faktor misalnya, nggak tau caranya bilang, nggak berani bilang, iya-in aja, yaudahlah nggak papa atau yaudahlah ikhlasin.

Karena punya potensi timbul asumsi tersembunyi kayak gini jadi bikin berinteraksi itu nggak optimal dan tujuan dari berinteraksinya nggak tercapai. Misal, mau me-negasi pernyataan orang lain lalu terbesit pikiran nggak bisa ngomongnya, bahasanya gimana ya? Entar kesinggung atau nggak dianya? Yaudahlah nggak usah aja, ikhlasin. Lalu seakan tidak terjadi apa-apa barusan.

Kalo diliat dari yang biasanya sedang terjadi dalam interaksi orang-orang, orang sulit ngebedain mana yg menyangkut baik-buruk dan benar-salah.

Mungkin karena orang terbiasa menutup diri, nggak terbuka sama kemungkinan baru, ngikut arus, dan sulit ngeluarin pendapatnya sendiri itu. Sampe mau bilang antara iya atau nggak aja, kepala bisa ngebul. Gara-gara duar!

Tetapi dalam konteks ini, saya tidak meletakkan interaksinya sebagai sesuatu yg salah. Cuma proses dari interaksinya jadi nggak optimal dan tujuan nggak tercapai, bukan berarti jadi rival yang "serius" sama lawan interaksinya juga, biar ada keseimbangan aja dan nggak bikin timpang. Dan dalam penyampaiannya pun gimana caranya nggak bikin masalah baru.

Komentar