Fleksibilitas Aturan Main Bersama

Apa itu standar sosial? Yaitu aturan main bersama yang telah disepakati oleh suatu kelompok sosial. Apakah standar sosial itu benar-benar disepakati oleh seluruh kelompok sosial tersebut? Belum tentu. Tetapi saya tidak akan bahas dalam konteks kenapa standar sosial tertentu tetap saja berlaku meskipun tidak disepakati secara keseluruhan oleh kelompok tersebut.

Saya bicara dalam konteks individu sebagai pemilik tubuh yang memiliki hak dasar dalam menilai suatu realitas atau persepsinya terhadap realitas.

Misal suatu standar sosial terhadap seorang anak manusia, yang diberi dengan macam-macam ekspektasi sosial seperti sepantasnya sudah memiliki beberapa pencapaian yang ditentukan oleh suatu standar sosial (silakan tentukan dgn pengalaman anda sendiri). Ekspektasi sosial ini yang sebenarnya bisa jadi tidak berlaku di beberapa orang.

Apakah seseorang bisa menilai suatu standar sosial tersebut dengan persepsinya atau berpotensi menjadi non-konformis? Tentu saja bisa, why not?

Meletakkan dan menilai suatu standar sosial sebagai objek (sesuatu yang jauh dari diri), tidak berpikir mengenai "aku" tetapi "kesepakatan mereka". Apakah perlu disepakati oleh diri, tidak sama sekali atau bagaimana?

Pun kebenaran itu letaknya bukan pada berapa banyak yang menyepakati, tapi terukur dengan kualitas yang mana kesejahteraan manusianya.

Dan perlu diingat kembali memiliki persepsi lain terhadap realitas dengan landasan menciptakan suatu kelompok sosial yang lebih baik dan sejahtera. Tidak ada masalahnya dgn syarat tidak ada pihak yang terugikan. Sejahtera ekuivalen dengan mengetuk ruang-ruang baru agar bergerak lebih leluasa.

Komentar